BANGKALAN ,—TERKINI69NEWS.ID,- Semangat petani tembakau di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, terus tumbuh. Di tengah dominasi daerah Madura lainnya yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi tembakau, Bangkalan mulai menunjukkan bahwa sektor pertanian tembakau juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
"Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan Pelatihan Pascapanen dan Panen Bersama yang digelar pada Selasa (8/9/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para petani untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sekaligus membuka peluang pengembangan agribisnis tembakau di Kabupaten Bangkalan,tutur Putra Desa Pangeran Gedungan H.Yusuf Santana.
Kepala Desa Pangeran Gedungan, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, Muhammad Bahri, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut pada awalnya direncanakan berlangsung di Desa Pangeran Gedungan. Namun, karena tanaman tembakau di lokasi tersebut sudah lebih dahulu dipanen, kegiatan panen bersama akhirnya dipindahkan ke Desa Neroh, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan.
Menurut Bahri, perubahan lokasi tersebut tidak mengurangi makna kegiatan. Justru, panen bersama menjadi kesempatan untuk memperlihatkan secara langsung bahwa budidaya tembakau di Bangkalan memiliki prospek yang menjanjikan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa tanaman tembakau di Bangkalan juga memiliki potensi, serta semangat untuk mengembangkan tembakau di Bangkalan tetap sama,” katanya.
Kegiatan tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak. Hadir perwakilan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Kabupaten Bangkalan, serta BRMP Malang.
Dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur hadir Ibu Bhekti, sementara dari BRMP Malang hadir Bapak Heri Prabowo dan PLT Kadis Pertanian bangkalan Dr. CHK Karyadinata. Kehadiran berbagai instansi tersebut menunjukkan adanya perhatian dan dukungan terhadap pengembangan komoditas tembakau di Kabupaten Bangkalan.
Selain pelatihan dan panen bersama, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyerahan bantuan alat perajang tembakau dari Dinas Kabupaten Bangkalan yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Bantuan alat tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan efisiensi proses pengolahan hasil tembakau sekaligus memberikan nilai tambah terhadap hasil produksi.
Muhammad Bahri menegaskan bahwa keberadaan tembakau di Bangkalan bukan sekadar kegiatan pertanian biasa. Jika dikembangkan secara serius dan berkelanjutan, tembakau dapat menjadi salah satu komoditas yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Selama ini masyarakat lebih mengenal Sampang, Pamekasan, dan Sumenep sebagai daerah penghasil tembakau di Madura. Padahal, Bangkalan juga mempunyai lahan dan petani yang mampu mengembangkan komoditas ini,” jelasnya.
Selama ini, produksi dan budidaya tembakau di Madura lebih banyak dikenal berasal dari tiga kabupaten, yakni Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Namun, Bahri ingin mengubah pandangan tersebut. Ia menilai Bangkalan juga mempunyai tanah, petani, serta potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi salah satu daerah penghasil tembakau.
“Ini menjadi bukti bahwa bukan hanya tiga kabupaten, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep saja yang bisa memproduksi dan membudidayakan tembakau. Bangkalan juga sangat potensial,” tegasnya.
Budidaya tembakau di Kabupaten Bangkalan sendiri mulai dikembangkan sejak 2024 dengan dukungan dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bangkalan.
Salah satu kelompok tani yang turut mengambil bagian dalam pengembangan tersebut adalah Kelompok Tani Askar Tiga di Desa Pangeran Gedungan, Kecamatan Blega, dengan ketua kelompok Tri Supandi.
Perjalanan kelompok tani tersebut bahkan telah membuahkan prestasi. Mereka berhasil memperoleh Juara Harapan II tingkat Provinsi Jawa Timur serta mendapatkan penghargaan dalam Madura Awards di Pamekasan.
Prestasi itu menjadi bukti bahwa petani Bangkalan memiliki kemampuan untuk menghasilkan tembakau yang mampu bersaing apabila mendapatkan pendampingan, pembinaan, dan akses pengembangan yang memadai.
Pengembangan tembakau di Bangkalan juga mulai diarahkan pada penguatan mata rantai agribisnis. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pengenalan terhadap produk CV Arbako, yang disebut sebagai salah satu mitra petani tembakau di Kabupaten Bangkalan.
Keberadaan mitra usaha menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pertanian. Sebab, petani tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam membudidayakan tanaman, tetapi juga membutuhkan akses terhadap pengolahan dan penyerapan hasil produksi.
CV Arbako juga disebut memiliki peran dalam menyerap tenaga kerja di bidang tembakau, khususnya melalui pengembangan sektor agribisnis.
Dengan demikian, komoditas tembakau diharapkan tidak berhenti pada aktivitas petani di lahan, tetapi dapat berkembang menjadi sebuah rantai ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Bahri berharap dukungan berbagai pihak dapat terus diperkuat, terutama dalam hal pembinaan petani, teknologi pascapanen, bantuan sarana produksi, hingga akses pemasaran.
“Petani jangan hanya didorong untuk menanam, tetapi juga harus dibantu bagaimana hasil panennya memiliki nilai tambah dan bisa masuk ke pasar dengan baik. Karena itu, sinergi pemerintah, kelompok tani, APTI, dan mitra usaha sangat penting,” paparnya.
Bagi para petani, kegiatan panen bukan sekadar melihat hasil tanaman yang telah dirawat selama berbulan-bulan. Di balik setiap daun tembakau terdapat kerja keras, ketekunan, serta harapan keluarga petani terhadap masa depan.
Karena itu, pengembangan tembakau di Bangkalan diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan petani.
Pendampingan dari pemerintah, dukungan APTI, keterlibatan kelompok tani, kehadiran mitra usaha, serta pemanfaatan DBHCHT secara tepat menjadi bagian penting dalam membangun fondasi tersebut.
Bahri optimistis bahwa dengan kerja sama berbagai pihak, Bangkalan mampu mengambil bagian lebih besar dalam sektor tembakau Madura.
“Ini menjadi motivasi bagi petani Bangkalan agar tidak kecil hati untuk bertani tembakau. Bangkalan bisa menjadi penghasil cukai dan berhak mendapatkan manfaat dari DBHCHT,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengembangan tembakau di Bangkalan membutuhkan proses yang berkelanjutan. Menurutnya, prestasi yang telah diraih kelompok tani harus menjadi pemicu agar semakin banyak petani berani mengembangkan komoditas tersebut.
“Kami berharap ke depan semakin banyak kelompok tani di Bangkalan yang tertarik mengembangkan tembakau. Dengan pembinaan dan pendampingan yang berkelanjutan, kami yakin kualitas dan daya saing tembakau Bangkalan bisa semakin baik,” pungkasnya.
Dari lahan tembakau, semangat itu tumbuh. Dari tangan petani, harapan ekonomi Bangkalan terus diperjuangkan.
